Sekilas tentang sipirok
Sipirok terletak di lembah gunung Sibual-buali pada ketinggian 910 m
diatas permukaan laut. Daerah ini berhawa sejuk, karna letaknya
didataran tinggi. Sama halnya dengan Brastagi kab Karo. Menurut cerita
orang yang pernah berkunjung ke daerah ini, mungkin karena hawanya sejuk
dan rasa nasi hasil padi yang ditanam oleh penduduk setempat membuat
selera makan kita bertambah. Daerah ini dihuni oleh mayoritas penduduk
bermarga Siregar yang bermigrasi ke Sipirok dari daerah Muara (Kab
Tobasa) pada tahun 1350 M.
Kecamatan Sipirok disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli
Utara, disebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Marancar, sebelah
Timur berbatasan dengan Kecamatan Padang Sidempuan Timur dan Kecamatan
Arse.
Aliran belerang dari gunung berapi Sibual-buali melimpahkan kesuburan
pada daerah ini. Kesuburan tanah dataran tinggi ini menjadikan Kecamatan
Sipirok salah satu andalan penghasil pangan untuk Wilayah Sumatera
Utara seperti Padi, Gula Aren, Kulit Manis dll. Dari hasil bumi inilah
pada era 50-an dan 60-an banyak diantara penduduk Sipirok sanggup untuk
menyekolahkan putra-putri mereka sampai ke luar negri.
Pendidikan di sipirok
Sejak zaman dahulu masyarakat Sipirok memang akrab dengan dunia
pendidikan. Hal ini terbukti dengan banyaknya keturunan orang Sipirok
yang berpendidikan tinggi dan berhasil di banyak bidang kehidupan yang
mereka jalani. Namun tidak banyak ditemukan jejak dan petunjuk tentang
pendidikan masa lalu di daerah ini.
Menurut buku tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan yang berjudul
“Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak”, Di
sipirok pernah terdapat Sekolah Pusat Pendidikan Militer yang digunakan
oleh Tentara Paderi untuk menghasilkan ankatan perang yang tangguh.
Sekolah Pusat Pnedidikan Militer ini mampu menghasilkan kekuatan militer
yang bisa mengimbangi kekuatan Tentara Napoleon dan Tentara Nazi dengan
jumlah murid sebanyak 35000 orang. Namun rasanya sungguh aneh ketika
hal ini di tanyakan kepada para Pemuka Masyarakat di Sipirok banyak yang
tidak mengetahuinya.
Hal ini juga bisa difahami karna satu-satunya sumber yang bercerita
tentang hal ini yakni buku “Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab
Hambali di Tanah Batak” menjadi polemik yang berkepajangan. Banyak tokoh
yang menentang isi buku ini, salah satunya adalah Buya HAMKA, beliau
mengatakan buku ini banyak kekeliruan dalam buku ini termasuk gaya
bahasanya yang aneh, tetapi oleh banyak pemerhati sejarah buku ini
pantas untuk mendapatkan penghargaan tersendiri.
Pada tahun 1860-an minat masarakat Sipirok pada pendidikan sangat
tinggi. Untuk itulah namora natoras (pemangku adat) setempat merasa
perlu diadakan pembangunan dibidang pendidikan sehingga dimulailah
pembangunan dengan membangun mesjid raya serta beberapa bangunan lembaga
pendidikan lainnya.
Mereka meminta kepada Syeik Muhammad Yunus Huraba yang baru pulang
menuntut ilmu dari mekkah untuk membangun dunia pendidikan Sipirok.
Dengan hadirnya Syeikh di Sipirok, dapat dipastikan bahwa struktur
masyarakat Sipirok akhirnya dapat berkembang sesuai dengan masyarakat
modern untuk level saat itu. Beliau menjadikan Sipirok menjadi Pusat
pendidikan Islam dan banyak melahirkan Ulama besar. Diantaranya adalah
Syeik Syukur Labuo dari Parau Sorat dan anaknya sendiri yang bernama
Tuan Syeik Ahmad Disipirok. Syeik Muhammad Yunus Huraba tutup usia pada
tahun 1909.
Sedangkan menurut salah seorang Pemuka Masyarakat ketika ditanya tentang
keberadaan Pusat pendidikan Militer yang di bangun Angkatan Perang
Bonjol mengatakan yang meminta namanya tidak disebutkan menyatakan bahwa
menurut cerita orang tua yang dia dapat, pada zaman penjajahan, Belanda
pernah mendirikan sekolah Militer dibekas markas Tentara Bonjol, yakni
di lokasi Rumah Sakit Umum Sipirok (belakang HKBP Sipirok) dengan lokasi
latihan tempur dari RSU sampai pegunungan Sibual-buali. Namun hal ini
juga tak banyak di ketahui oleh masyarakat, bahkan menurutnya hal ini
sepertinya sengaja dilupakan karna cerita tentang hal ini mengandung
banyak kontroversi dan memang sebaiknya dilupakan tak banyak ditemukan
fakta mengenai hal ini.
Pada tahun 1868 didaerah ini juga berdiri sekolah guru tepatnya di Parau
Sorat. Murid pertamanya berjumlah lima orang, yaitu: Thomas, Paulus,
Markus, Johannes dan Epraim. Guru mereka adalah Dr. A. Screiber dan
Leipold, ternyata hal ini juga tidak banyak diketahui oleh masyarakat.
Sekolah ini banyak melahirkan guru yang kelak menjadi penyebar ajaran
Agama Kristen.
Setelah itu, tak banyak petunjuk tentang fakta pendidikan di Sipirok.
Menurut informasi yang didapat dari Guru Ismet (salah seorang tokoh
pendidikan / pensiunan guru yang tinggal di Sipirok) Pada tahun 1901
oleh Belanda didirikanlah sekolah yang sekarang menjadi SMP Negeri 1
Sipirok. Hal ini terlihat dari arsitektur bagunan gedung sekolah ini,
mulai dari tiang, jendela , pintu, atap, papan tulis memperlihatkan
bahwa bangungan ini adalah bangunan tua, sedangkan sekolah tertua
seperti SD Negeri 1 Sipirok dan SMA Negeri 1 Sipirok tidak ditemukan
tahun pasti berdirinya.
Masa demi masa pendidikan di Sipirok
di-era 60-70an, didaerah ini pernah berdiri SMKK (Sekolah Menengah
Kesejahteraan Keluarga ) di Jl. Pesanggarahan yang meliputi Jurusan Tata
Boga, Tata Busana dan Tata Rias dan SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi
Pertama) di Jl. Simangambat No. 178 yang dirubah menjadi SMP Negeri 3
Sipirok. Juga STM Negeri Sipirok di Kelurahan Baringin. Sekarang
bangunan SMKK dan STM yang dulu pernah ada di Kecamatan Sipirok tidak
dipergunakan lagi.
Gaung pendidikan di Sipirok baru terdengar kembali pada tahun 1997,
ketika dibangun Sekolah Bertaraf Internasional di Sipirok. Sekolah ini
adalah SMU Negeri 3 Plus Sipirok oleh mantan Gubernur Sumatra Utara Alm
Letjen (Purn) Raja Inal Siregar, beliau adalah putra daerah Sipirok.
Sekolah ini cukup berhasil dalam mendidik siswanya untuk level saat ini.
Selain itu, SMP Negeri 1 Sipirok juga dipilih oleh Pemerintah sebagai
salah satu SMP Percontohan di Indonesia, dimana sekolah ini menjadi
salah satu sekolah yang mempunyai Program Ilmu Keterampilan Dasar.
Sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa pendidikan telah membawa
putra-putri Sipirok menjadi berhasil menjadi pengusaha ataupun menjadi ,
sederet jabatan dalam pemerintahan pernah dipangku oleh putra-putri
daerah ini. Seperti Menteri, Gubernur BI, Hakim Agung, Gubernur, Duta
Besar dll. Omp Doli, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Gunung
Manaon bercerita sebanyak 27 orang kuliah ke Luar Negeri, yakni 25 orang
ke Jepang dan dua orang ke Australia teman sebayanya alumni dari SMA
Negeri 1 Sipirok pada tahun 1950-an. Tetapi tak satupun dari
teman-temannya itu menetap di Indonesia, hal ini disebabkan karna mereka
merasa tidak di hargai oleh Pemerintah.
Oleh karena itu, satu pertanyaan yang perlu untuk dijawab sendiri oleh
masyarakat Sipirok, apakah generasi muda Sipirok banyak mengetahui
sejarah yang pernah terjadi di Sipirok sehingga mereka dapat
membandingkan kondisi mereka sekarang dengan jaman keemasan pendidikan
yang membawa putra-putri pada keberhasilan? Bagaimana respon masyarakat
Sipirok untuk memajukan pendidikan di Sipirok?
Silahkan jawab sendiri!
Oleh : Ismail Fazri Siregar, Penulis adalah Putra Sipirok
Sekilas tentang sipirok
|
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment